بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Assalamualaikum wr. wb.
"Alhamdulillahi nasta’iinuhu wanastagh firuhu wana’uudzubillaahi min syuruuri anfusinaa waminsayyi ati a’ maalinaa man yahdihillahu falaa mudhilla lahu waman yudhlil falaa haadiya lahu, asyhadu anlaa ilaha illallaahu wah dahulaa syariikalahu wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhuu warasuuluhu la nabiya ba’da.”.
*penanaman adab dalam menumbuhkan fitrah seksualitas anak*
Mendidik Fitrah Seksualitas adalah merawat, membangkitkan dan menumbuhkan fitrah sesuai gendernya, yaitu bagaimana seorang lelaki berfikir, bersikap, bertindak, merasa sebagaimana lelaki Juga bagaimana seorang perempuan berfikir, bersikap, bertindak, merasa sebagai seorang perempuan.
🍄Prinsip 1 : Fitrah Seksualitas memerlukan kehadiran, kedekatan, kelekatan Ayah dan Ibu secara utuh dan seimbang sejak anak lahir sampai usia aqilbaligh (15 tahun)
🍄Prinsip 2 : Ayah berperan memberikan Suplai Maskulinitas dan Ibu berperan memberikan Suplai Femininitas secara seimbang. Anak lelaki memerlukan 75% suplai maskulinitas dan 25% suplai feminitas. Anak perempuan memerlukan suplai femininitas 75% dan suplai maskulinitas 25%.
🍄Prinsip 3 : Mendidik Fitrah seksualitas sehingga tumbuh indah paripurna akan berujung kepada tercapainya Peran Keayahan Sejati bagi anak lelaki dan Peran Keibuan sejati bagi anak perempuan. Buahnya berupa adab mulia kepada pasangan dan anak keturunan.
🍒Tahap Usia 0-2 tahun : Anak lelaki maupun anak perempuan lebih didekatkan kepada Ibu karena masa menyusui. Menyusui adalah tahap awal penguatan semua konsepsi fitrah termasuk fitrah keimanan dan fitrah seksualitas.
🍒Tahap Usia 3-6 tahun : ini Tahap Penguatan Konsepsi Gender dengan Imaji imaji positif tentang gendernya masing masing. Anak lelaki maupun anak perempuan harus didekatkan kepada Ayahnya dan kepada Ibunya. Ayah dan Ibu harus hadir pada fase ini. Indikator tumbuhnya fitrah seksualitas di tahap ini adalah anak dengan jelas dan bangga menyebut gendernya di usia 3 tahun.
🍒Tahap Usia 7-10 tahun : Ini tahap Penyadaran Potensi Gender dengan beragam aktifitas yang relevan dengan gendernya. Anak lelaki yang telah ajeg konsep kelelakiannya pada usia 0-6 tahun, maka kini disadarkan potensi kelelakiannya langsung dari Ayah. Anak lelaki lebih didekatkan ke Ayah. Ayah mengajak anak lelakinya pada peran dan aktifitas kelelakian pada kehidupan dan sosialnya, termasuk menjelaskan mimpi basah, fungsi sperma dan mandi wajib.
Begitupula anak perempuan lebih
didekatkan ke Ibu untuk disadarkan peran keperempuanannya dalam kehidupan sosialnya.
Indikator di tahap ini adalah anak lelaki kagum dan ingin seperti ayahnya, anak perempuan kagum dan ingin seperti ibunya.
🍄Tahap 11-14 tahun : Ini tahap Pengujian Eksistensi melalui ujian dalam kehidupan nyata. Anak lelaki yang telah sadar potensi kelelakiannya kini harus diuji dengan memahami mendalam lawan jenisnya langsung dari ibunya. Maka anak lelaki di tahap ini lebih didekatkan kepada ibunya agar memahami cara pandang perempuan dari kacamata perempuan (dalam hal ini ibunya). Anak perempuan juga sebaliknya, lebih didekatkan ke ayahnya agar memahami mendalam bagaimana cara pandang lelaki dari kacamata lelaki (dalam hal ini ayahnya). Indikator di tahap ini adalah persiapan dan keinginan bertanggungjawab menjadi ayah bagi anak lelaki. Bagi anak perempuan adalah persiapan dan keinginan bertanggungjawab menjadi ibu
🍄Tahap => 15 tahun : Ini tahap penyempurnaan fitrah seksualitas sehingga menjadi peran keayahbundaan. Ini adalah masa AqilBaligh atau anak bukan lagi anak anak, tetapi mitra bagi orangtuanya. Secara syariah mereka telah Mukalaf atau mampu memikul beban syariah, termasuk kemampuan untuk menikah atau menjadi ayah sejati atau menjadi ibu sejati.
Semua ulama sepakat bahwa anak pada tahap ini sudah tidak wajib lagi dinafkahi, jikapun masih dinafkahi itu karena statusnya fakir miskin. Maka kewajiban orangtualah untuk mengantarkan anak anak mereka untuk aqilbaligh sempurna dan mencapai peran peradaban bukan hanya dalam profesi namun juga untuk berperan menjadi ayah sejati dan ibu sejati.
Sejatinya, pemaparan di atas lah yang menjadikan alasan mengapa
penanaman adab dalam menumbuhkan fitrah seksualitas anak perlu di terapkan kepada ananda.
Kali ini saya akan sharing mengenai apa yang sudah dilakukan saya dan suami terkait penanaman adab ini.
Saat ini saya dan suami menjalani rumah tangga dalm kondisi LDM, otomatis kami harus berbagi peran dalam semua hal terlebih apabila suami sedang dinas. Otomatis *penugasan* teknis sepenuhnya ada di tangan saya, walaupun secara konsep suami dan saya yang merumuskan dan selebihnya terkait penerapan dilaksanakan sesuai situasi. Dengan segala keterbatasan kondisi, kami berusaha untuk *menghadirkan orang tua yang utuh* baik dari segala segi. Termasuk perihal contoh tugas dan kewajiban. Berhubung ananda keduanya adalah anak laki-laki, saya dan suami sepakat untuk "menanamkan" prinsip bahwa kelak ananda akan menjadi seorang pemimpin entah di keluarganya maupun dalam lingkup yang lebih besar lagi yaitu masyarakat.
Saya khususnya memperlihatkan dan sering menceritakan kegiatan pekerjaan abinya bahwa seorang laki-laki kelak harus bisa menjadi pemimpin yang bertanggungjawab untuk dirinya dan kelak anak istrinya (biasanya menggunakan saya gunakan bahasa dan cerita yang mudah di mengerti terkait tanggungjawab ini).
Saya ceritakan bahwa Abi bekerja untuk *kita* Aa, Ade dan ummi. Walaupun jauh , karena tugas seorang laki-laki adalah mencari maisyah seberat apapun tantangan nya. Kemudian biasanya suami pun menghubungi kami dengan inténsitas tertentu untuk mengetahui sejauh mana anak - anak memahami kondisi saat ini.
Terkait penanaman adab berpakaian, saya dan suami berusaha untuk *melibatkan* ananda dalam lingkungan yang relatif kondusif dengan memasukkan nya ke Madrasah Ibtidaiyah (hal ini kami putuskan karena kondisi Ldm) yang mana lebih memungkinkan untuk ananda memiliki lingkungan yang dinamis. Di MI pun anak-anak berpakaian sesuai fitrah nya sehingga *jelas diperlihatkan* bahwa dari segi pakaian pun gender menentukan perbedaan nya dimana perempuan berbusana muslim Serba tertutup dari ujung kepala sampai ujung rambut dan siswa laki-laki berpakaian sopan lengan panjang dan celana panjang serta memakai kopiah. Agaknya ini menjadi salah satu bentuk ikhtiar kami juga sebagai orangtua.
Terkait profesi, walaupun sering di ceritakan bahwa abinya bekerja di bidang yang sangat laki-laki, namun tidak menjadikan abinya canggung untuk membantu ummi mengerjakan pekerjaan rumah. Karena mungkin saja ilmu ini diperlukan ketika Aa Ghazy atau Ade Dzakir kelak Allah SWT berikan rezeki untuk bersekolah atau bahkan bekerja di negeri orang. Maka sikap mandiri untuk mampu mengerjakan segala sesuatu tanpa mengandalkan orang lain ini akan sangat diperlukan. Sikap abinya yang juga sering melakukan pekerjaan rumah tangga ketika cuti bekerja agaknya menjadi *contoh * untuk ananda kami berdua.
Ade Dzakir (5th) karena masih dominan *melihat* Aa nya jadi masih sering ikut-ikutan dalam hal mengerjakan sesuatu, namun Alhamdulillah ade sudah mampu memutuskan pakaian mana yang akan dipakai, merapikan mainan sendiri, dan mandi sendirk. Saat ini pun alhamdulillah Aa Ghazy (7th) sudah mampu mencuci piring sendiri (walaupun masih perlu dilatih terkait penghematan sabun cuci. . .hehe), mampu melipat pakaian sendiri, merapikan kamar sendiri, dan yang saat ini sedang gemar sekali di lakukannya adalah memasak sendiri ( hal ini tentu tidak menjadikan pembiasan terhadap peran gender) Toh baik perempuan atau laki-laki sah saja mampu dan bisa memasak. Karena ilmu yang baik itu tidak berat untuk di bawa ke mana saja (ini naséhat ibunda kepada saya ketika belum menikah). Hingga bagi kami berdua , saya dan suami merasakan ananda boleh mempelajari ilmu baik apa saja. Dengan tentunya tidak meninggalkan fitrahnya sebagai seorang laki-laki dan tentu kamu pun berusaha agar ananda mempelajari ilmu yang justru menjadikan fitrahnya berkembang secara paripurna. Aamiin Aamiin ya Rabbal'alamin.
#challengeelevenstars
#materi11
#membangkitkanfitrahseksualitas
#kuliahbunsayiip
Tidak ada komentar:
Posting Komentar