Sabtu, 20 Januari 2018

Peran orang tua dalam pendidikan seksualitas anak #Game level 11 Day 4

Bismillahrirrahmanirrahim

Ada banyak sekali pakar parenting di Indonesia. Dengan berbagai ilmu, penelitian, dan pendekatan mereka memaparkan kondisi anak-anak kita. Salah satu pakar parenting yg aktif menyoroti problematika anak terutama seksualitas adalah Elly Risman.
Jika teman-teman pernah mengikuti seminar beliau, banyak sekali data-data yang terungkap terkait dengan masalah seksualitas dan penyebab dari itu.

Ibu Elly Risman menjelaskan bahwa awal mula dari masalah seksual dan penyebab disorientasi seksual zaman now adalah absennya orang tua pada kehidupan anak. Anak-anak yang BLAST (Bored, Lonely, Angry/Anxious, Stressed, Tired) akhirnya mencari pencarian kasih sayang dan hiburan di luar orang tua dan keluarganya. Bibit masalah pun dimulai, anak-anak menjadi penasaran dengan berbagai hal menjurus ke pornografi dan mencari atau menikmati informasi dari berbagai media tanpa pengawasan.

Selain virus BLAST, yang memicu anak kurang paham ttg fitrah seksualitas adalah absennya ayah pada proses pengasuhan di rumah. Ketika anak-anak tidak terekspose pada figur orang tua yang seimbang, contohnya, hanya ibu saja yg mendampingi anak, bapak sibuk di luar dan tidak membersamai keluarga, maka anak akan kehilangan kesempatan meneladani dan belajar dari sosok ayah.

Senada dengan Elly Risman, Ust Harry Santosa mengungkapkan bahwa salah satunya penyebab yang membuat anak-anak kurang melek terhadap fitrah seksualitas, lagi-lagi terletak pada peran orang tua dalam membersamai anak. Sejauh mana orang tua masuk dalam kehidupan anak sejauh itu pula level kelekatan dan kedekatan anak pada orang tua.

Analoginya mungkin seperti ini, pernah melihat jarum suntik? Atau merasakan disuntik? Jika jarum yang masuk hanya setengah otomatis tidak menjadi obat dan hanya rasa sakit yang ditinggalkan. Lain halnya jika jarum disuntikkan hingga mengalirkan obatnya, sakit memang, tp penyakit bisa sembuh.

Begitu pula dengan masalah seksualitas, jika orang tua membersamai sejak dini dan mengenalkan apa itu fitrah seksualitas, jika ibu mengedukasi anak ttg ini sejak fase awal dan bapak ikut mendampingi di fase berikutnya, masalah seksualitas akan menjauh dengan sendirinya karena keterlibatan orang tua.

Sumber:
1. https://sofianaindraswari.com/teman-belajar-ayah-serial-sosok-penting-bernama-ayah-bagian-3/
2 . https://www.mommee.org/kuliah-tematik-sesi-2-ayah-ada-ayah-tiada/
3. Fitrah Based Education, ver 3.0 Harry Santosa, penerbit Yayasan Cahaya Mutiara Timur, cetakan ketiga 31 Maret 2017
4.https://ceritaleila.wordpress.com/2017/05/22/lagi-menyimak-bahasan-fitrah-anak-bersama-ustadz-harry/
5. Fitrah Seksualitas‬ & ‎Fitrah Estetika Anak‬
Harry Santosa – Millenial Learning Center
6. Hasil Diskusi Kelompok Empat-i

Discussion sessions sharing kelas bunda sayang kelompok empat-i:

1). Kasus pacaran apakah bisa dikategorikan kehilangan figur ayah hingga mencari kasih sayang dr luar🙏?

Jawab :

Meski banyak faktor... Tapi utama iya ini... Mereka baik anak perempuan dan laki2 kehilangan figur ayahnya dan ibunya,

Kenapa karna ga terbangun komunikasi dan kedekatan... 

Komunikasi dan kedekatan yang seperti apa...utamanya ttg pembelajaran seksualitasnya...  Mereka ga tahu atau tidak pernah diajarkan kondisi fisik dan fase remaja seperti peeubahan fisik tubuh mereka,  jaringan organ, sel2 hormon2 serta fase2 hasrat dan pengontrol hasrat dan rangsangan2 tubunya ini yang sangan penting wajib di buka diskusi PENTING antara anak dan ortu

Kedua jelas bahwa remaja sangat membutuhkan teman maka teman yang utama adalah kedua orangtuanya... Supaya anak tidak mencari "teman" lainnya...

Sejujurnya ada banyak motivasi untuk pacaran. Daripada berasumsi, lebih baik saya sharing pengalaman saja.
Saat anak-anak perempuan lain pacaran, saya tidak tertarik. Buat saya pacaran itu buang-buang waktu, buang-buang energi. Lagipula semua teman saya yang pacaran hanya bertahan beberapa bulan, lalu putus dan nangis-nangis. Lalu pacaran lagi, putus lagi, nangis lagi. Bagi saya itu seperti jatuh berulangkali ke lubang yang sama, bodoh banget🤦‍♀.
Ini pemikiran saya ketika SMP.
Kalo saya pikir ulang saat ini, kayanya saya kok ketuaan, ya. SMP mikirnya udah kaya gitu😅.
Tapi akhirnya saya bersyukur. Saya bisa mengambil kesimpulan seperti itu karena hasil latihan berpikir bersama ayah saya. Ayah saya selalu mengajak saya berpikir sebelum bertindak, harus sadar betul pilihan yang diambil.
Jadi, kenapa saya berani mengambil keputusan antimainstream, saya kira karena masa kanak-kanak saya banyak dihabiskan dengan ngobrol berkualitas dengan ayah saya.🙏

Kasus lain :

Orangtua saya bercerai, dan saya sama sekali tidak merasa punya bonding dengan ayah kandung saya...meski hubungan saya dengan beliau ttp baik, tp memang rasanya seperti org lain saja.

Mgkn ini jg sebabnya saya pacaran...entahlah, memang rasanya bahagia sekali dapat perhatian dr lawan jenis krn memang saya merasa nggak pernah merasakan yg seperti itu. Baru setelah saya lulus kuliah, mulai takut dosa (telaat bgt🙈), dan cape patah hati, akhirnya saya milih utk nggak pacaran.

Sama suami Alhamdulillah gak pake pacaran, kenal 4 bulan, langsung lamaran😁.

Baru skrg2 saya sadar bahwa, ya mgkn jika saya cukup mendapat kasih sayang ayah, sepertinya pacaran tidak akan sebegitu menggiurkan

Mba Noni:
Betul makanya kedekatan ortu sangat penting supaya bisa di bangun diskusi bahwa 1. remaja butuh teman
2. Remaja memerlukan rasa aman dalam hal apapun.
3. Remaja butuh beribadah apapun agama mereka dan oerlu pengembangan spiritualismenya...

Mba Rima:
Saya dari kecil tidak pernah punya ayah, jangan kan sentuhan dan kasih sayang. Sosok fisiknya pun tidak ada.

Tapi alhamdulillah saya baik baik saja.
Fitrah seksualitas sy sejauh ini baik baik saja.
Insyaallah

Tapi memang ada yang hilang jauh disana. Iya.

Oleh karena itu saya sangat mendukung "kembalinya para ayah ke rumah, kepada anak anaknya"

Untuk wanita uang kehilangan figur ayah itu ada 2 macam

Satu yang mencari kehangatan dari laki laki lain seperti yang dijelaskan bun Noni tadi

Tapi sebaliknya
Ada pula justru yanh menjadi sangat hati hati terhadap laki laki. Parahnya sampai membenci laki laki

Nah ini bisa memicu penyimpangan mulai dari tomboy, hingga menjadi lesbian

Tapi sekali lagi rem diri, fitrah keimanan, lingkungan, tetap mempengaruhi juga.

Memang ada ibu hebat yang sanggup membesarkan anak hebat seorang diri. Sebutlah Bunda Hajar, Ibunda Ismail AS. Sang ayah terpisah jauh namun begitu beliau datang dan meminta anaknya untuk disembelih, sang anak bisa ikhlas luar biasa. Kok bisa ya? Kita harus menelaah bagaimana Bunda Hajar mengasuh dan mendidik Ismail AS? Sayangnya sedikit sekali informasi mengenai ini🙏
Sementara sosok yang kita kenal, Muhammad SAW, dibesarkan tanpa ayah, namun dikelilingi oleh para lelaki hebat pemimpin kaumnya.
Tapi...apa yang terjadi di Jepang saat ini mengejutkan saya.Jepang saat ini di ambang kepunahan karena para pemudanya tidak punya minat untuk melakukan hubungan seksual dengan perempuan. Mereka lebih menyukai boneka, hewan, atau aplikasi smartphone. Mereka tak tahu bagaimana caranya berlaku sebagai lelaki sejati dan tak tahu juga bagaimana memperlakukan perempuan. Hingga akhirnya memilih menghindari perempuan. Mereka dikenal sebagai kaum herbivora.
Generasi sebelumnya, generasi ayah mereka terkenal sebagai pekerja keras. Pekerja Jepang sudah terkenal bekerja hingga 100jam. Keluarga 100% diurua oleh para ibu. Anak-anak lelaki jelas kurang berinteraksi dengan ayah mereka. Para ayah bahkan terkadang tidur di kantor karena lembur.
Memang, dampaknya tak terlihat nyata ketika menjadi kasus individual. Kurangnya kehadiran ayah berhubungan dengan angka kejadian LGBT. Makin panjang durasi ketidakhadiran, makin besar pula kemungkinan LGBT.
Sementara, jika ini terjadi dalam skala populasi, maka kondisi yang terjadi di Jepang saat ini sangat perlu diantisipasi.
Mba Noni: Raise your child raise your self... 

Maka bangun diskusi untuk sama2 mencari jawabannya...  Lewat referensi apa saja... 

Jadi nambah ilmu dan pengetahuan kan bahwa reproduksi manusia dan binatang berbeda tahu bedanya dan tahu kenapa dirinya di Ciptakan...

Hmm,...figur ayah memang penting sekali ya.. saya juga tidak tinggal dengan ayah saya ..
Jadi saat masih remaja dulu saya dan syndrom gak suka sama cowok seumuran.. jadi saya lebih suka sama laki² yg lebih tua daripada saya.(untung dapet suami yg lebih tua..😁😁).
Setelah belajar parenting dan Baca buku FBE Ustdza Harry.. barulah saya tau.. saya dulu kehilangan sosok ayah.. pelajar untuk saya. Maka skrg anak-anak harus dekat dengan ayah nya

Mba Noni: Para ibu yang bisa membesarkan anak tanpa ayahnya tapi KONSEP KEPEMIMPINAN SUAMI dan AYAH sudah melekat di sanubari ibunya sehimgga ketika mendidik meski sang ayah tidak ada disampingnya ibu tetap membawa mengajarkan dan mendidik value dari ayahnya...
Ibarat seperti mengemudikan sebuah pesawat. Ayah berperan sebagai pilot, dan ibu adalah co-pilotnya. Anak2 merupakan penumpang yang dititipkan Tuhan untuk kita hantarkan sampai tujuannya. Apa? Menjadi khalifah-Nya. Pilot dan co-pilot harus bersinergi dalam kerjasama membaca navigasi beserta sistem kemudinya (arah tujuan keluarga masing2). Mendampingi ayah sebagai teman belajar ayah dalam membangkitkan fitrah seksualitas salah satu bagian dari sistem kemudi tersebut. Bagaimana anak2 tumbuh, berkembang dan belajar mengenai sexualitas sangat membutuhkan peran yabg seimbang dari ibu dan ayahnya.
Belajar dari banyak kasus2 yang terjadi seperti "hilangnya figur ayah", dapat menjadi pelajaran bagi kita untuk membuat atau mengembalikan pengetahuan fitrah sexualitas seorang anak.
 Percayalah bunda.. Tuhan Tak Pernah Salah Memilih pundak amanah untuk kita sebagai orang tua. Mendidik mereka menjadi manusia yang bermartabat dan bermanfaat bagi umat. Insha Allah.




2). Perlu ketegasan gender dalam pemberian nama :
. Jadi ingat wkt pemberian nama anak ke-3. Abinya mau Uyainah Rosheed, sy ga sreeg banget krn kedengarannya feminim. Sy bujuk terus paksu biar menerima nama pilihan sy menjadi Umair Rosheed sj lebih maskulin kedengarannya. Katanya sudah fix bgitu (sy kecewa) tp ternyata pas keluar akta lahirnya anak malah terharu krn paksu mau menerima saran istrinya 😊
pemberian nama harus tegas sesuai jenis kelaminnya kalo lagi2 yaa namannya harus maskulin baik dari segi terdengarnya ketika disebutkan maupun artinya mengandung nama maskulin.


5. Peran ayah dan bunda dalam menjelaskan kewajiban bersunat kepada ananda laki-laki nya:
Pengalaman anak2 saya juga gitu. Tapi tetap ada sounding walaupun kadang mereka menolak diajak cerita tentang sunat. Pas usia sekitar 8th an, saya mulai cerita ttg baligh, dan hal2 yang berkaitan dgn itu.

Anak2 nanya, biasanya umur berapa bu?
Ya saya jawab aja, kalau tiap orang beda2. Tapi diusahakan pas usia 10 th sudah sunat, jadi kalau pas dapat mimpi basah udah siap.

Eh mendadak di usia 9th lebih dikit dia minta sendiri 😀

saya share pengalaman nyunatin 2 anak lelaki saya yaa.. keduanya sudah sejak kecil disounding ttg kewajiban sunat, si sulung akhirnya disunat usia 9 tahun dengan penuh perjuangan akibat pemberontakannya (4x naek turun tempat tidur di ruang praktek), padahal sengaja saya ikutkan sunatan massal biar banyak temen senasib. Hasilnya, emak digigit, bapak dicakar & dipegangin oleh 3 perawat ditangani 2 dokter..
Sedang si tengah saya sunatin secara mendadak, alhamdulillah dia kooperatif  dan baik2 saja...

3). Peran dan konsep ayah yang KUAT...
bisa kita lihat dari pak Dodik ke bu Septi... 
Lihat deh...
Apakah pak dodik tidak memiliki peran?!...
Kan jelas pak Dodik adalah konseptor...

Dan bu Septi sang ibu adalah pelaksana yaitu manajer lapangan...

Sebagai pelaksana atau manajer lapangan wajar sekali jika ibu yang terkesan "repot" dari awal...

Tapi bapak ga diam saja toh....

Bapak menyiapakan segala sesuatunya... Menyiapkan sang ibu menjadi pelaksana dan manajer lapangan... Menyiapkan kurikulum keluarga... Menyiapkan fasilitas... Mengambil keputusan...
Mengevaluasi hasil kerja sang ibu pelaksana manajer keluarga...

Jelas lebih berat dan lebih banyak tugas sang bapak bukan...

🙏😊
[1/9, 22:08] Lita_IIP Tangkot: Izin cerita, Saya pernah dapat tausiyah dari senior, perihal Ismail yang tetap menjadi soleh meskipun tanpa didikan ayahnya Ibrahim, ternyata karena bunda Hajar tetap menghadirkan sosok ayahnya Ibrahim melalui cerita2 nya kepada Ismail. Menghadirkan harapan2 ayahnya kepada Ismail.

Begitupun Nabi Musa yang mendapatkan Firaun ayah angkatnya dimasa kecil. Mendapat pendidikan oleh istri Firaun Asiyah dengan baik.

Rosulullah mendapatkan pendidikan dari keluarga Halimatusyadiyah ibu susunya dengan baik.

Jadi meskipun tanpa ayah menurut beliau, seorang anak akan bisa tetap menjadi baik bila si ibu tetap menghadirkan sosok ayah dalam imajinasi anak meskipun tidak ada fisiknya. Jadi kehadiran peran ibu yang soleh itu lebih diutamakan. Wallahualam🙏
[1/9, 22:26] Finy Hairani: sedikit menambahkan kisah bunda Hajar dan Nabi Isma'il.. Betul _Abu Anbiya_ Ayahanda para Nabi,  Ibrahim as secara fisik jauh dari istri dan putra tercintanya ini. Tapi sebelum berpisah, beliau telah purna mengajarkan dan meneladankan keimanan dan ketaqwaan serta tawakkal kepada bunda Hajar.

Hal ini kita ketahui dari kisah berpisahnya mereka di gurun pasir yang tandus yang tak dihuni seorangpun manusia. Ketika berpisah, ibunda Hajar menyusul suaminya yang meninggalkannya sambil bertanya "mengapa engkau meninggalkanku"? sampai berkali-kali dan tak dijawab oleh suami tercintanya itu, karena kata tercekat di kerongkongan dikarenakan kesedihan mendalam harus meninggalkan putra yang sudah lama dinantinya serta istri yang beliau cintai.

Akhirnya Hajar bertanya "Apakah Allah yang memerintahkanmu untuk meninggalkan kami disini? Jika ya,  maka aku tak akan bertanya lagi". Nabi Ibrahim hanya menjawab "ya" kemudian pergi. Berdo'alah Nabi Ibrahim dengan tawakkal dan penuh pengharapan kepada Allah, tersurat dlm Alquran
Allah SWT berfirman:

وَإِذْ قَالَ إِبْرٰهِـۧمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا ءَامِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ ۥ  مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنْ ءَامَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْأَاخِرِ  ۖ  قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ ۥ  قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ ۥ ٓ إِلٰى عَذَابِ النَّارِ  ۖ  وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Mekah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, Dia (Allah) berfirman, Dan kepada orang yang kafir akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 126)

* Via Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Dengan do'a krna kekhawatirannya meninggalkan putra dan istrinya inilah yg menggetarkan Arsy Allah sampai Allah turunkan malaikat Jibril untuk menyuburkan padang pasir tandus tsb dengan mengambil tanah dari daerah Syam kemudian dithawafkan mengelilingi Ka'bah dan ditaburkan sehingga negeri itu subur. Airpun melimpah dari kaki Nabi Isma'il..

Nabi Ibrahim secara fisik tak hadir,  namun do'a,  pengajaran, keteladanan akan iman, taqwa dan tawakkal telah hadir melalui istrinya, ibunda Hajar.
[1/9, 22:28] ‪+62 812-5284-510‬: Jadi ada dua kakak beradik. Sama-sama santun, berhati baik dan menerapkan nilai-nilai luhur dalam hidupnya. Keduanya berkeluarga. Sama2 beranak banyak. Si kakak perempuan hidup sederhana dengan anak-anaknya. Si adik laki2 hidup berkecukupan dengan keluarganya. Keduanya mengajarkan NILAI dan keteladanan pada keluarga. Waktu berlalu, anak bertumbuh, hingga kakak beradik ini meninggal. Anak-anak si kakak perempuan adalah anak yang rukun, saling bahu membahu dan menjadi pembesar negeri ini.

Anak-anak si adik tidak sesukses anak-anak si kakak perempuan, padahal dulunya hidup berkecukupan dan tinggal di luar negri dan sampai hari ini berebut warisan yang ditinggalkan ayahnya, dengan kondisi IBU nya masih hidup (Si Ibu - istri dari adik laki-laki tadi)

Ya melihat fenomena tersebut.. sy jd berfikir, dahsyatnya PERAN IBU yang sungguh luar biasa dalam pembentukan mental, moral dan cara berfikir anak-anaknya. Dengan tidak bermaksud mengkerdilkan peran ayah ya (on a lighter note), tapi ya itulah kenyataannya. Dari dua bersaudara yang sama-sama BAIK, hasilnya bisa BERBEDA, karena IBU dari anak-anaknya BERBEDA.

Tapi mungkin ini kasus tertentu ya, tidak bisa digeneralisasikan 🙏🏻
[1/9, 22:49] Nesri Baidani IIP: masyaaAllah, disini peran Ayah yang tuntas mendidik Sang Ibu. Jadi klo Ayah pergi sebelum tuntas mendidik isterinya, bisa bikin gagal seluruh proses, ya?
[1/9, 22:56] Finy Hairani: terdapat kisah lain yang sebagai pembanding bun Nes..

Kisah Nabi Nuh yang istri dan putranya Allah tenggelamkan karna tak mau beriman, kisah Imam Malik yang walau tanpa ayah bisa berhasil menjadi imam madzhab tapi tetap ta'zhim pada ayah yang meninggalkan mereka krna kejahilannya.

Peran kursial, ada pada istri sebagai ibu. Ketika tidak menjalani perannya dengan baik,  walau dididik oleh sekaliber Nabi pun ternyata tetap menularkan keteladanan yang kurang baik terhadap keturunannya.
[1/9, 22:58] Finy Hairani: langsung memuhasabahi diri
#sudahkah saya menjalankannya dengan baik dan penuh kesungguhan 😭
[1/9, 23:14] Fitriani Sriwinarsih _Leader Lc: Baru bisa manjat dan ter WOW WOW secara ayah sudah  dipanggil sang kekasih-Nya saat saya usia 15th.

Pas banget masuk Aqil Baligh ya,
Dan selali tema Ayah, lagu, film membuat bendungan mata tak mampu ditahan. Empati luar biasa.

_sejak pernikahan kita harus mempersiapkan dengan pasangan (suami istri) jika salah satu meninggal duluan_
Ini reminder dlu yg pernah saya terima dari bu Septi. 😍
[1/10, 00:04] ‪+62 856-2436-5848‬: Ihhh luarbiasa *Empat-i* 😍😍😍

Tema tentang *Sosok Ayah* yg lagi sering diperbincangkan ini selalu membuat sy penasaran akut.

Entah kenapa, sy tidak rela mengakui bahwa sy kehilangan figur sosok ayah di masa kecil. Meski berbagai indikatornya ada pada diri sy. Termasuk pacaran, dan _cukup biasa_ mendengar lagu Ayah.

_Warhamhumaa kamaa robbayaanii soghiiroo_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar